Head Line :
Home » » mengetahui keperawanan berdasar survei MEDIS dan MITOS

mengetahui keperawanan berdasar survei MEDIS dan MITOS

Penulis : aan martha on Senin, 07 Januari 2013 | 02.06


Perawan atau gadis adalah sebutan untuk seseorang perempuan dewasa yang belum mempunyai suami. Istilah yang lain, seorang perawan adalah seorang wanita yang belum melakukan hubungan seksual atau senggama. Secara fisik perawan ditandai dengan utuhnya selaput dara. Secara Islam keperawanan bukan sekadar masih utuhnya selaput dara di vagina, namun juga belum pernah melakukan aktivitas seksual.
Seirama dengan hal tersebut pakar seksologi dr Iwan Setiawan memberikan tiga sudut pandang dalam pemaknaan perawan. Pertama, seseorang disebut perawan dalam kacamata Islam ialah seseorang yang belum melakukan persentuhan dengan lelaki bukan mahrom, baik ciuman, pelukan atau sekedar berpegangan tangan, karena di Islam sendiri ada istilah zina tangan, zina mata, zina hati juga. Kedua, dari sudut pandang psikologi seorang perempuan disebut tidak lagi perawan jika sudah merelakan dirinya, hal ini tidak jauh berbeda dengan batasan dalam Islam. Ketiga dari medis, seseorang tidak perawan manakala selaput daranya sudah tidak utuh, baik karena memang sudah melakukan hubungan seksual atau pun sobek karena terjatuh atau hal-hal lainnya.
Namun demikian, di masyarakat pemaknaan “sudah tidak perawan” dipukul rata sebagai seseorang yang sudah melakukan hubungan intim. Bahkan dalam perkembangannya, bentuk fisik seorang perempuan dijadikan penanda masih tidaknya keperawanannya.
Pandangan umum di masyarakat seorang perempuan yang pantatnya turun, payudaranya kedor, atau jalannya lurus dianggap sudah tidak perawan lagi.
Selain dari bentuk fisik, anggapan lain tentang keperawanan juga terlihat manakala malam pertama. Sebagian orang beranggapan bahwa jika perempuan mengeluarkan darah saat malam pertama berarti pasangannya masih perawan.
Namun persepsi yang telah merebak di masyarakat tidak sejalan dengan medis. Dokter Iwan yang juga sering memberikan konsultasi pada pasangan rumah angga menuturkan, pendarahan yang terjadi saat malam pertama disebabkan adanya selaput dara yang koyak atau pecah. Sementara kondisi selaput dara setiap orang berbeda-beda, ada yang mengandung pembuluh darah yang cukup banyak, yang memungkinkan terjadinya pendarahan saat selaput dara terkoyak.
Dan yang tidak mengandung pembuluh darah. sehingga pada saat selaput dara terkoyak tidak terjadi pendarahan. Selain itu tidak terjadi pendarahan juga mungkin disebabkan pernah terjatuh yang berakibat sobeknya selaput dara dan hal tersebut sering terjadi sewaktu masih kecil. ”Tidak semua perempuan pada malam pertama mengeluarkan darah keperawanan,” tukasnya
Sebagaimana anggapan terjadinya pendarahan saat malam pertama sebagai tolok ukur keperawanan, bentuk fisik yang dijadikan simbol keperawanan, juga sangat disayangkan Iwan. Karena anggapan-anggapan tersebut tidak lain hanyalah mitos belaka karena memang tidak bisa diuji secara ilmiah.

Mitos

Lebih lanjut beliau memaparkan persepsi terkait mitos. Mitos sebenarnya adalah sebuah pemahaman yang berasal dari budaya-budaya di lingkungan dimana pemahaman tersebut sebenarnya keliru tetapi karena dipercaya oleh sebagian masyarakat sehingga menjadi seolah-olah benar, begitu juga dengan mitos keperawanan.
Terkait dengan perubahan bentuk pantat yang turun, secara medis berlaku ketika seseorang sudah hamil dan melahirkan. Itu pun tidak seluruhnya, karena di jaman sekarang ini perawatan pascamelahirkan sudah sangat maju. Sehingga perubahan bentuk tubuh pasca melahirkan bisa diminimalkan.
Sedangkan jika masih remaja bentuk payudara yang kendor, pantat yang turun dan jalan yang lurus bisa disebabkan genetika atau pun kebiasaan buruk.
Iwan menjelaskan payudara yang kendor bisa karena seringnya dirangsang, hal ini dapat dilihat sebagaimana payudara wanita tuna susila, yang keseharian tentu saja selalu dirangsang, bentuk payudara mereka tidak bagus.
Bentuk payudara wanita tuna susila yang tidak bagus inilah yang dijadikan salah satu dasar persepsi bahwa jika bentuk payudara seorang perempuan kendor, ia sudah tidak perawan. Dan tentu saja persepsi tersebut merugikan perempuan.
Dalam medis, anggapan tersebut tidak tepat, karena payudara yang kendor juga bisa dipengaruhi posisi tidur atau bahkan dikarenakan penggunaan bra yang kurang benar. Bentuk payudara bisa bagus manakala penggunaan bra disesuiakan dengan aktivitas-pada saat olahraga ataukah saat santai.

Medis 

Secara medis keperawanan seseorang hanya dapat dilihat dengan visum et repertum. Visum et repertum yang biasa disingkat VeR adalah keterangan tertulis yang dibuat oleh dokter mengenai hasil pemeriksaan medis terhadap manusia, baik hidup ataupun mati, bagian tubuh manusia ataupun yang diduga bagian tubuh manusia. Jenis VeR, pada umumnya ialah perlukaan (keracunan), kejahatan susila, jenazah, psikiatrik.
Jenis VeR kejahatan susila inilah yang termasuk didalamnya akan ada pemeriksaan alat kelamin. Namun demikian VeR tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Ada beberapa prosedur termasuk surat keterangn dari kepolisian.

Share this article :
 

Copyright © 2011. dolapdolop | kumpulan puisi dan lagu . All Rights Reserved.
Design Template by dpdp | Support by creating website | Powered by Blogger