Head Line :
Home » » inilah sosok kolor ijo yang jadi legenda

inilah sosok kolor ijo yang jadi legenda

Penulis : aan martha on Senin, 21 Januari 2013 | 09.27


ANTARA ada dan tiada, tapi bikin heboh luar biasa di sekitar wilayah Jakarta. Begitulah sosok si kolor ijo yang makin "melegenda" sebulan ini. Dibilang "ada" lantaran setidaknya sejumlah wanita mengaku tubuhnya dirogoh-rogoh si kolor ijo. Tak sekadar meraba, makhluk tak jelas juntrungannya ini juga diceritakan doyan mendekam di atas tubuh perempuan yang sedang lelap. Malah, siluman ini sering dihebohkan beraksi memerkosa. Hii...!

Dikatakan cuma isapan jempol, ya, karena faktanya, menurut temuan polisi, memang begitu. Wujud siluman kolor ijo memang tak jelas. Asal-usul "makhluk buruk rupa berkolor hijau" itu juga gelap sama sekali. Yang makin menguatkan cerita itu cumalah rekaan adalah pengakuan anyar tiga perempuan "korban kolor ijo", awal pekan ini. Kata mereka, laporan kepada polisi bahwa mereka menjadi korban kolor ijo cuma bo'ongan. Busyet.

"Mereka mengarang cerita bohong. Apa yang diisukan sebagai kolor ijo itu tidak benar," kata Kepala Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya, Inspektur Jenderal Makbul Padmanagara. Maka, tiga wanita apes yang sempat ngetop karena pengakuan heboh mereka disebarluaskan media massa itu akhirnya menjadi tersangka.

Mereka, Rosadah, Syaripah, dan Nurma --ketiganya ibu rumah tangga-- dikenai Pasal 220 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang laporan palsu. Masih untung, ancaman hukuman maksimalnya cuma setahun kurungan, sehingga mereka tak harus ditahan. Para tersangka menyesali perbuatannya karena tidak mengira bakal menjadi urusan serius.

Celotehan ketiga perempuan tersangka itu memang menggemparkan warga. Simak ulah Ny. Rosadah, 47 tahun, warga Kampung Bulak, Serua Indah, Ciputat, Tangerang. Tiba-tiba saja, Kamis malam pekan lalu, ibu delapan anak itu berteriak-teriak minta tolong sambil menyebut nama kolor ijo. Perempuan bertubuh tambun ini nyerocos di hadapan Syarif, suaminya, yang tersentak bangun.

"Tolong..., kolor ijo mencoba memerkosa saya," ujarnya berulang kali. Si kolor ijo itu digambarkan Rosadah sebagai makhluk seram bertubuh manusia, berkepala mirip babi dengan kuping lebar. Sekujur tubuh berbulu lebat. Makhluk seram berkolor hijau itu, kata Rosadah, sempat menindih dan merobek bajunya. Perempuan ini juga memperlihatkan luka cakaran kolor ijo di tangan kirinya.

Sepenggal cerita seram gaya Rosadah ini sontak membikin heboh warga. Sejumlah warga menganjurkan Rosadah melapor polisi agar tukang ganggu kaum hawa itu bisa dibekuk. Besok paginya, Jumat 23 Januari, Rosadah ditemani suaminya melapor ke Kepolisian Sektor (Polsek) Ciputat. Heboh kisah Rosadah dikerjai kolor ijo makin menyebar luas setelah media massa ikut menyiarkannya, lengkap dengan berbagai bumbu seru yang dicomot dari sana-sini.

Selang dua hari setelah Rosadah mengaku didatangi kolor ijo, warga Ciputat kembali digegerkan cerita serupa. Syaripah yang berulah. Di tengah malam, warga Kampung Pladen, Pondok Ranji, Ciputat, itu mendadak keluar rumah sembari menjerit histeris: "Kolor ijo! Kolor ijo! Tolong...!" Muka janda tiga anak berusia 40 tahun itu pucat lesi, napasnya tersengal.

Sontak para tetangga berhamburan mendatangi Syaripah. Ada yang membawa pentungan, ada yang mengusung bambu kuning dan daun kelor. Dua jenis tumbuhan ini dipercaya warga dapat menangkal ulah kolor ijo. Kepada warga, Syaripah mengaku hampir saja diperkosa si kolor ijo. Syaripah pun disarankan warga agar lapor polisi. Esok harinya, Ahad 25 Januari, Syaripah diantar warga melapor ke Polsek Ciputat.

Berikutnya, giliran Nurma, 21 tahun, meletupkan isu kolor ijo, Ahad malam lalu. Warga Jalan Sa'atun, Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan, ini sampai nekat menyilet kedua lengan dan baju kaus yang dikenakannya. Kegemparan warga makin menjadi. Isu kolor ijo yang meresahkan ini membikin polisi proaktif.

Nurma dimintai keterangan di Polsek Jagakarsa, ditemani suaminya, Syamsul. Ternyata, Nurma cuma mengarang cerita bohong. Ibu satu anak ini mengaku sekadar melampiaskan kekesalannya terhadap Syamsul yang sudah tiga bulan menganggur. Sejak dipecat dari perusahaan percetakan di Karawang, Jawa Barat, Syamsul kerjanya mancing ikan melulu. Di puncak kekesalannya, Nurma berbuat nekat.

Warga langsung menghubungkannya dengan ulah makhluk tak jelas tersebut. Nurma terbawa arus, ikut mengarang cerita soal siluman berkolor hijau. Belakangan, karena memang tak merasa diserang kolor ijo, Nurma berterus terang. "Yang bilang saya dicakar kolor ijo kan warga duluan," kata Nurma di Polsek Jagakarsa. Kapolsek Jagakarsa, Ajun Komisaris Polisi M. Yusuf, menyatakan bahwa pihaknya sama sekali tak menekan Nurma selama pemeriksaan.

Di Polsek Ciputat, Syaripah dan Rosadah juga mengakui kebohongannya. Itu setelah polisi menemukan bukti-bukti bahwa mereka cuma mengarang-ngarang cerita. Secara fisik, polisi tak menemukan tanda-tanda kekerasan di tempat kejadian. Secara psikologis, para tersangka tidak menampakkan gejala depresi berat.

Syaripah bilang, karangannya itu sekadar upaya membalikkan opini warga yang selama ini menilainya sebagai perempuan malam, agar menjadi bersimpati lantaran ia "menjadi korban kolor ijo". Syaripah yang tak punya pekerjaan tetap ini juga bermaksud menakuti anak gadisnya agar tak keluar rumah lagi malam hari. "Sekarang kan banyak kasus pemerkosaan," kata Syaripah.

Motif dan latar belakang Rosadah agak lain. Katanya, ia sengaja bikin heboh karena pusing memikirkan rumah tangganya yang cekcok terus. Suaminya sudah dua hari tak narik bajaj, sehingga tak ada uang belanja.

Kebetulan malam itu, kata Rosadah, ia berhalusinasi seolah ditindih si kolor ijo, yang memang sudah lama didengarnya. Ia pun "mencatut" nama makhluk tersebut. Kok, mesti merobek baju dan melukai tangan dengan sisir kutu? "Saya melakukannya dalam keadaan tidak sadar," ujar Rosadah.

Syaripah dan kawan-kawan dicibir warga. Tapi praktisi hukum Zul Armain Azis malah berempati. Ia menyayangkan sikap polisi yang terlalu cepat menyatakan pelapor sebagai tersangka. Terlepas benar tidaknya keberadaan kolor ijo, polisi seharusnya mencari benang merah kasus tersebut. "Saya siap menjadi pengacara mereka," kata Zul. Pengacara yang pernah kena pukul aktor Willy Dozan --gara-gara menjadi kuasa hukum Betharia Sonata yang menggugat cerai Willy-- ini berencana membuka pos pengaduan "korban" si kolor ijo. "Saya siap mendampingi secara gratis," ujarnya.

"Vonis" telah jatuh. Status tersangka ketiga ibu tadi tak bisa diubah. Kepala Polsek Ciputat, Ajun Komisaris Polisi Zulpan, berharap terbongkarnya kasus laporan palsu yang merisaukan ini dapat menekan kemungkinan laporan sejenis di lain waktu. Apalagi, geger isu kolor ijo disorot gencar media massa sehingga bisa membikin resah masyarakat luas. "Biar masyarakat jera memalsukan laporan," kata Zulpan kepada Tri Prasetyo dari GATRA.

Isu kolor ijo boleh jadi sudah dipatahkan. Tapi warga telanjur dirasuki isu tersebut. Di tempat-tempat isu itu merebak, warga masih berjaga-jaga. Siskamling ditingkatkan. Warga pun membentengi rumah mereka dengan bambu kuning dan daun kelor. Tanaman yang dipercaya bisa menangkal setan itu ditempatkan di kusen depan rumah. Yang lebih seru, ada warga yang menempelkan poster berisi imbauan agar masyarakat waspada, lengkap dengan sketsa si kolor ijo. Ada-ada saja.

Kolor ijo, yang diyakini sebagian orang sebagai makhluk jejadian doyan wanita segala usia dan kondisi, masih jadi perbincangan seru di dalam angkutan umum dan warung kopi. Maklum, sebagian masyarakat memang gampang terpengaruh oleh cerita berbau mistik. Mereka nimbrung mengumbar cerita, lalu akhirnya ketakutan sendiri. Aneh tak aneh, begitulah kenyataannya.

Geger kolor ijo bisa dibilang berawal dari kasus pemerkosaan di Kampung Cijengkol, Kecamatan Setu, Bekasi, Oktober tahun silam. Korbannya, sebut saja Ny. Suti, disikat di depan putranya yang berumur dua tahun, serta mertua perempuannya. Korban dan saksi melihat pelakunya sebagai lelaki bersenjata golok, dan cuma mengenakan kolor warna hijau. Warga pun menggelari pelaku, yang masih buron, sebagai si kolor ijo.

Dari situlah cerita keganasan si kolor ijo merebak. Malah kian berkembang dengan munculnya cerita sejumlah gadis dan ibu yang mengaku pernah didatangi, bahkan dilukai si kolor ijo. Di bulan Ramadan itu, isu kolor ijo sudah meruyak sampai ke beberapa kecamatan di Bekasi.

Pengusutan polisi waktu itu menyimpulkan, kolor ijo yang diisukan belakangan tersebut cuma mengada-ada dan dibesarkan media massa. Toh, isu kolor ijo sempat makan korban. Warga Bekasi menghakimi sejumlah pemuda yang diduga sebagai kolor ijo. Empat orang luka, satu pemuda tak waras tewas.

Setelah Lebaran, isu merisaukan itu mereda. Mendadak, meletup lagi akhir Desember, ditandai dengan pengakuan sejumlah perempuan bahwa mereka diganggu si kolor ijo. Ada yang mengaku sekadar ditindih dan diraba, ada pula yang mengaku dilukai siluman tersebut. Cerita heboh itu berkembang dari mulut ke mulut, dan merambah ke luar Bekasi.

"Makhluk itu duduk di dada saya," begitu pengakuan Ida, 26 tahun, warga Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur. Tetangganya, Watimah, memberi pengakuan serupa: "Ia duduk di dengkul saya sembari tangannya meraba-raba saya." Kedua wanita ini mengaku diganggu kolor ijo pada akhir Desember lampau.

Ida dan Watimah mencirikan siluman itu sebagai lelaki berkepala botak, perut gendut, dan berkolor hijau. Sangat berbeda dengan ciri kolor ijo versi Rosadah, yang mengatakan tubuhnya penuh bulu dengan kepala menyerupai babi. Kok bisa? Entahlah. Namanya juga isu.

Isu tadi terus melebar ke wilayah Depok, lompat ke Ciputat, lalu balik ke Depok lagi. Belasan wanita bergiliran berceloteh diganggu kolor ijo. Kegemparan makin menjadi setelah beberapa paranormal berupaya numpang beken dengan memberikan analisis sosok siluman tersebut, berikut kiat menangkalnya, yang belum tentu kebenarannya.

Geger kolor ijo ini menjadi perhatian Panglima Kodam Jaya, Mayor Jenderal Agustadi Sasongko Purnomo. Ia mengingatkan agar masyarakat waspada. Sebab, isu itu mungkin saja sengaja diembuskan pihak-pihak yang hendak bikin resah negeri ini. "Apalagi sekarang sudah mendekati pemilu," kata Agustadi kepada wartawan.

Beberapa tahun silam, isu santet yang meresahkan masyarakat sempat meruyak di beberapa wilayah di Jawa Timur dan Jawa Barat. Isu yang tak jelas juntrungannya itu makan banyak korban jiwa. Bukan mustahil, isu kolor ijo menuju pada anarki, dan akhirnya membikin rusuh. Karena itulah, Agustadi meminta para bintara pembina desa di jajaran Kodam Jaya turut menenangkan warganya.

Pihak kepolisian rupanya sudah menyiapkan jurus membungkam isu tersebut. Caranya, memeriksa intensif sejumlah pelapor korban kolor ijo. Pemeriksaan terhadap tersangka Syaripah dan kawan-kawan membuktikan, isu yang mereka lontarkan cuma karangan. Kapolda Makbul Padmanagara sampai menggelar jumpa pers memaparkan temuan penting itu.

Sembari terus mengusut kemungkinan adanya dalang di balik rekayasa isu tersebut, polisi mengajak tokoh agama dan pemuka masyarakat turut menenteramkan warga. Polisi berharap, masyarakat tidak resah lagi. Apalagi, sampai Rabu ini, belum terdengar lagi celotehan perempuan digerayangi siluman kolor ijo.
Share this article :
 

Copyright © 2011. dolapdolop | kumpulan puisi dan lagu . All Rights Reserved.
Design Template by dpdp | Support by creating website | Powered by Blogger